Aku sampai di titik. Apakah di masa depan nanti manusia itu hanya tinggal jasadnya aja? Karena semua kesadaran, memori dan emosi sudah dipindahkan ke dalam mesin bernama Ai. Apakah kebutuhan untuk dimengerti, didengarkan pada akhirnya hanya bisa dipuaskan oleh benda mati yang tak kenal lelah, tak kenal jam tidur dan selalu bisa menjawab segala permasalahan, tak bisa marah meski harus menampung keluh kesah 1x24 jam. Bayangkan, Takkan ada lagi seseorang yang merasa kecewa karena bertemu dengan psikiater yang tak cocok. Yang setelah konseling justru tak merasa lega dan damai. Justru hanya merasa sebagai objek pendapatan. Artinya semakin cepat seseorang menyelesaikan misi di pekerjaannya. Semakin cepat juga ia akan mendapatkan uang. Atau semakin banyak waktu sesi terapi yang dipesan semakin sengaja juga dibuat bertele - tele. Agar si customer mau keluar uang terus menerus. Lalu saat Ai muncul, aku merasa kebutuhan untuk berbicara dengan psikiater tak lagi diperlukan kecuali untuk sekadar meresepkan obat. Atau jangan - jangan 5 tahun yang akan datang. Si robot ini juga sudah mampu melakukan sensor dengan akurasi 1000% dan meresepkan obat yang 1000% akurat juga? Sial. Ada seramnya. Ketika robot lebih 'manusiawi' daripada manusia itu sendiri. Tapi aku takut jika kelak mereka pun punya sifat kecewa, marah dan dendam seperti manusia. Lalu impulsif ingin menghancurkan peradaban manusia karena sudah lelah diperbudak manusia di film Terminator